Program berbasis Community of Practice (CoP) mendorong pengembangan profesional guru yang berkelanjutan dan membuka peluang pembelajaran Bahasa Inggris berkualitas bagi lebih banyak siswa madrasah di Indonesia
Ket Foto: Program ‘Penguatan Pembelajaran Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah melalui Komunitas Praktik’ secara resmi diluncurkan di Gedung Kemenag Lapangan Banteng (13/10).(ki-ka) Summer Xia,Country Director Indonesia dan Director Southeast Asia British Council,Fiona Ritchie,Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia ,Kate Joyce,Direktur Asia Pasifik,British Council,Prof.Dr.KH.Nasaruddin Umar,M.A.Menteri Agama RI,Prof.Dr.Phil.Kamaruddin Amin,Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI dan Dr.Fesal Musaad, M.Pd.Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Kemenag RI )











KORANBOGOR.com,JAKARTA-Menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) kelas III–VI mulai Juli 2027, British Council bersama Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia meluncurkan program Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP ) .
Program ini akan dimulai dengan Training of Trainers (ToT) yang dilakukan kepada 68 Community of Practice (CoP) Leaders yang nantinya akan memberikan pelatihan kepada 6.000 guru Bahasa Inggris dan guru kelas MI di 34 kota/kabupaten.
Lebih dari sekadar mencapai jumlah peserta pelatihan, STEPS-CoP dirancang untuk memastikan para guru memiliki ruang, dukungan, dan kesempatan yang cukup untuk terus berkembang menjelang penerapan kebijakan tersebut.
Summer Xia, Country Director Indonesia dan Director Southeast Asia British Council,mengatakan kolaborasi dengan Direktorat GTK Madrasah menjadi kesempatan penting untuk mendukung upaya Pemerintah Indonesia memperkuat pendidikan Bahasa Inggris sejak jenjang dasar.
“Mempersiapkan penerapan wajib Bahasa Inggris di madrasah bukan sekadar perubahan kurikulum. Lebih dari itu, ini adalah upaya membekali para guru agar dapat membuka lebih banyak peluang bagi jutaan anak di seluruh Indonesia.
Melalui STEPS-CoP, kami memadukan keahlian global British Council dengan pengetahuan dan pengalaman para pendidik Indonesia untuk membangun model pengembangan profesional yang dapat diperluas dan berkelanjutan.
Dengan mendorong guru untuk saling belajar dan memimpin perubahan di komunitas masing-masing, kami ingin memastikan bahwa semakin banyak anak mendapatkan pendidikan Bahasa Inggris berkualitas, di mana pun mereka tinggal dan apa pun latar belakang mereka,” ujar Summer Xia.
Kemampuan berbahasa Inggris kini semakin penting bukan hanya sebagai kompetensi akademik,tetapi juga sebagai salahsatu pintu untuk mengakses ilmu pengetahuan, teknologi,jejaring, dan berbagai peluang global.
Bagi siswa MI, pembelajaran sejak dini diharapkan menjadi fondasi agar mereka semakin siap tumbuh dan berpartisipasi di dunia yang semakin terhubung.Karena itu,kesiapan menghadapi kebijakan 2027 tidak cukup hanya dengan menghadirkan Bahasa Inggris di dalam kurikulum.Kualitas pengalaman belajar siswa pada akhirnya sangat bergantung pada kesiapan orang yang berada di depan kelas.
Bukan Pelatihan yang Berakhir di Ruang Kelas
Salah satu pembeda STEPS-CoP adalah pendekatan pengembangan profesional berbasis komunitas. Alih-alih menempatkan pelatihan sebagai kegiatan yang selesai ketika sesi berakhir,program ini mendorong guru terus belajar bersama, mendiskusikan persoalan yang mereka temui di kelas,saling bertukar pengalaman, serta mengembangkan praktik baik bersama rekan sejawat .
Sebanyak 68 CoP Leaders akan dipersiapkan melalui Training of Trainers untuk menjadi fasilitator dan penggerak komunitas belajar di 34 kota/kabupaten. Mereka akan mendukung pengembangan 6.000 guru sekaligus membantu menjaga agar proses pembelajaran profesional dapat terus berjalan melalui komunitas.
Selain itu, EnglishScore British Council dan Self-Assessment Tool (SAT) digunakan untuk membantu memetakan kompetensi Bahasa Inggris dan pedagogi guru. Dengan mengetahui titik awal dan kebutuhan pengembangan masing-masing, peningkatan kapasitas dapat dilakukan dengan lebih terarah dan tidak menggunakan pendekatan seragam untuk semua guru.
“Guru tidak membutuhkan satu lagi pelatihan yang selesai ketika sesi berakhir.Kami membutuhkan ruang untuk terus belajar setelah kembali ke kelas,untuk mendiskusikan tantangan yang kami hadapi,berbagi praktik yang berhasil, dan belajar dari pengalaman sesama guru,” ungkap Septriani Nidi,Pengawas Sekolah di Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah Kota Bandar Lampung,UK Alumni sekaligus salah satu pelatih yang memfasilitasi Training of Trainer bagi para CoP Leaders .
Menurut Septriani,pengalaman mengikuti pengembangan profesional sebelumnya memperlihatkan bahwa proses belajar menjadi jauh lebih bermakna ketika guru merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas.
“Itulah yang ingin kami bangun melalui STEPS-CoP: agar guru tidak berjalan sendiri,dan setiap peningkatan kompetensi yang kami peroleh pada akhirnya benar-benar terasa manfaatnya oleh siswa,” tambahnya.
Memperluas Kemungkinan bagi Siswa Madrasah
Berdasarkan data resmi BPS semester ganjil 2025,terdapat 26.826 Madrasah Ibtidaiyah di seluruh Indonesia.Dengan skala sebesar itu,STEPS-CoP tidak diposisikan sebagai satu-satunya jawaban atas seluruh kebutuhan pengembangan guru,melainkan sebagai langkah awal untuk membangun model pengembangan profesional yang dapat terus tumbuh,direplikasi,dan diperluas secara bertahap. Karena itu, 6.000 guru yang terlibat dalam program ini menjadi titikawal bagi dampak yang diharapkan dapat berkembang lebih luas.
Pendidikan menjadi salah satu fondasi penting dalam hubungan jangka panjang antara Inggris dan Indonesia. Melalui STEPS-CoP, kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat kualitas pengajaran Bahasa Inggris di madrasah agar semakin banyak siswa memiliki bekal untuk mengakses pengetahuan dan peluang yang lebih luas.
Pendekatan ini sekaligus menempatkan guru sebagai pusat perubahan.Ketika seorang guru memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensinya manfaatnya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Pengetahuan,keterampilan,dan praktik pengajaran yang berkembang akan dibawa kembali ke ruang kelas dan terus memberi manfaat kepada banyak siswa sepanjang perjalanan profesinya.Dengan memperkuat seorang guru,kita tidak hanya meningkatkan kualitas satu ruang kelas,tetapi juga memperluas kemungkinan masa depan bagi setiap anak yang akan belajar darinya.
Menteri Agama Republik Indonesia Prof.Dr.KH.Nasaruddin Umar,MA menegaskan bahwa penerapan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah perlu ditempatkan dalam visi pendidikan madrasah yang lebih luas.
“Penerapan Bahasa Inggris diMadrasah Ibtidaiyah bukan semata-mata penambahan mata pelajaran,tetapi bagian dari ikhtiar mempersiapkan generasi madrasah agar memiliki kemampuan untuk mengakses ilmu pengetahuan dan berinteraksi dengan dunia yang semakin terbuka,tanpa kehilangan akar nilai dan karakter mereka,” ujarnya.
Menurut Menteri Agama, kesiapan guru menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan perubahan tersebut. “Guru harus diberikan kesempatan untuk terus belajar,meningkatkan kompetensi, dan saling menguatkan.Kolaborasi ini kami harapkan dapat
membangun budaya pengembangan profesional yang berkelanjutan, sehingga perubahan kebijakan pada 2027 benar-benar menghadirkan pengalaman belajar yang semakin berkualitas bagi siswa madrasah di seluruh Indonesia,” lanjutnya.
Dukungan untuk Guru, Investasi untuk Siswa
Keberhasilan penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib pada akhirnya membutuhkan dukungan lebih luas dari pada pemerintah,British Council, atau para guru yang mengikuti program. Pimpinan madrasah perlu memberikan waktu dan ruang bagi guru untuk terus belajar.
Orang tua dan masyarakat juga memiliki peran dalam membangun sikap positif terhadap pembelajaran Bahasa Inggris sejak dini tanpa menjadikannya semata-mata sebagai tambahan tekanan akademik bagi anak.
“Pelatihan bisa menjadi awal dari perubahan, tetapi guru yang berdaya dan komunitas profesional yang kuat yang dapat membuat perubahan ini terus berlanjut. STEPS- CoP dirancang agar pembelajaran profesional menjadi bagian dari praktik mengajar sehari-hari,sehingga dampaknya bisa menjangkau lebih dari 6.000 guru yang terlibat secara langsung.
Pada akhirnya,program ini bukan sekadar pembekalan untuk guru mengajar Bahasa Inggris, tetapi agar mereka juga dapat membekali murid dengan keterampilan, kepercayaan diri, juga peluang untuk membentuk masa depan mereka. Saat kita berinvestasi kepada guru, kita juga memperbesar peluang yang diciptakan untuk setiap generasi pelajar.,” tutup Summer Xia.
Tentang British Council
British Council adalah organisasi internasional Inggris untuk hubungan budaya dan kesempatan pendidikan. Kami mendukung perdamaian dan kemakmuran dengan membangun hubungan,kesepahaman, dan saling percaya antara masyarakat di Inggris dan negara-negara di seluruhdunia. Kami mewujudkannya melalui berbagai program di bidang seni dan budaya, pendidikan, serta bahasa Inggris. Kami bekerja dengan masyarakat di lebih dari 150 negara dan menjangkau lebih dari 700 juta orang.
britishcouncil.id/en
Annisa Fauzia:
Communications Manager Southeast Asia (based in Indonesia), British Council
Rizky Gunawan
Public Relations Consultant – CB Mandala