KORANBOGOR.com,SEMARANG-Ada musisi yang dikenang karena suaranya ada yang dikagumi karena karya-karyanya namun ada pula yang meninggalkan kesan mendalam justru karena caranya memperlakukan orang lain bagi saya sosok terakhir itu adalah Carlo drummer grup musik Jikustik.
Perjumpaan singkat di sebuah hotel di Yogyakarta membuat saya memahami bahwa kebesaran seorang musisi tidak selalu tercermin dari gemerlap panggung,riuh tepuk tangan,atau banyaknya penggemar.
Terkadang kebesaran itu justru terlihat dari sesuatu yang sederhana , keramahan , kesediaan menyapa dan kemampuannya memperlakukan setiap orang dengan penuh penghargaan.
Saya termasuk generasi yang tumbuh bersama lagu-lagu Jikustik,sejak album-album awal hingga karya-karya terbarunya, musik kelompok asal Yogyakarta ini memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan hidup saya.
Lagu seperti Setia,Maaf,Tak Ada yang Abadi,Puisi,Selamat Malam Dunia,hingga Bagai Elang bukan sekadar rangkaian nada. Lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari kenangan masa kecil dan masa muda,menemani berbagai peristiwa yang tidakselalu dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Ada sesuatu yang khas dari Jikustik melodinya sederhana tetapi membekas.Liriknya romantis tanpa kehilangan kedalaman musiknya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Perjalanan Jikustik memang tidak selalu mulus pergantian vokalis dari era Pongki Barata,kemudian Brian Prasetyoadi hingga kehadiran kembali Icha dalam perjalanan grup ini menghadirkan warna yang berbeda.
Namun,bagi saya,perubahan tersebut tidak pernah menghilangkan identitas musikal Jikustik.Di tengah perjalanan panjang itu,perhatian publik sering kali tertuju kepada sosok vokalis.
Hal tersebut wajar karena penyanyi berada di garis depan sebuah pertunjukan. Akan tetapi,sebuah grup musik tidak pernah dibangun oleh satu orang saja.
Di balik dentuman drum yang menjaga irama ada Carlo sosok yang menurut saya layak mendapatkan perhatian bukanhanya karena kemampuan bermusiknya melainkan juga karena kualitas kemanusiaannya.
Pertemuan Sederhana yang Membekas
Suatu ketika, saya bersama keluarga sedang menikmati liburan di Yogyakarta. Kami menginap di sebuah hotel dan secara tidak terduga bertemu dengan Carlo Jikustik.
Bagi seseorang yang telah menikmati karya Jikustik sejak lama pertemuan itu tentu menjadi pengalaman menyenangkan , namun yang paling membekas bukanlah semata-mata kesempatan bertemu seorang musisi terkenal justru sikap Carlo yang membuat perjumpaan tersebut terasa istimewa.
Ia menyambut percakapan dengan hangat tidak tampak keinginan menciptakan jarak antara dirinya sebagai figur publik dan saya sebagai orang yang baru ditemuinya obrolan berlangsung begitu alami,seolah kami bukan dua orang yang sebelumnya hanya mengenal satu sama lain melalui karya musik.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah caranya berinteraksi dengan lingkungan sekitar.Keramahan itu tidak hanya saya rasakan secara pribadi,tetapi juga terlihat ketika ia berhadapan dengan resepsionis dan pengunjung hotel lainnya.
Dari pengamatan sederhana tersebut,saya menangkap sesuatu yang semakin berharga di tengah kehidupan modern: kemampuan menghargai orang lain tanpa memandang status sosial.
Belakangan,melalui komunikasi WhatsApp,saya mengetahui bahwa Carlo baru saja tampil dalam sebuah kegiatan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA).Di tengah aktivitasnya sebagai musisi, kesan hangat dari perjumpaan tersebut tetap melekat dalam ingatan saya.
Pertemuan itu mungkin tampak biasa. Namun, bagi saya, pengalaman tersebut menghadirkan pelajaran yang tidak selalu ditemukan dalam ruang kuliah ataupun buku-buku pengembangan diri. Bahwa seseorang dapat memiliki nama besar tanpa merasa perlu membesarkan dirinya di hadapan orang lain.
Di Balik Panggung,Ada Karakter
Dalam industri hiburan,popularitas sering kali diukur melalui jumlah penonton pengikut media sosial hingga seberapa sering seseorang menjadi perbincangan publik. Padahal ada ukuran lain yang tidak kalah penting: bagaimana seseorang bersikap ketika sorotan kamera tidak lagi mengarah kepadanya.
Carlo telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Jikustik,grup yang tumbuh dari Yogyakarta dan mampumempertahankan tempatnya dalam ingatan penikmat musik Indonesia.Kiprahnya juga tidak berhenti pada Jikustik.
Pada Februari 2026 Carlo terlibat bersama Adhit Jikustik dalam Klaten Project melalui lagu religi Tuhan Itu Ada,yang turut menghadirkan Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dan musisi lainnya.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman panjang dalam industri musik dapat terusmembuka ruang kreativitas baru.Namun pengalaman bertemu Carlo mengingatkan saya bahwa prestasi dan karakter merupakan dua hal yang semestinya berjalan beriringan.
Seorang musisi boleh dikenal karena teknik bermainnya.Seorang penyanyi boleh dipuja karena keindahan suaranya.Akan tetapi,penghormatan yang lebih mendalam sering kali tumbuh dari cara mereka memperlakukan sesama manusia.
Kita tentu tidak dapat menilai keseluruhan karakter seseorang hanya berdasarkan satu pertemuan.
Namun,pengalaman personal tetap memiliki nilai sebagai bahan refleksi. Sikap sederhana yang kita saksikan dapat menjadi pengingat mengenai perilaku yang patut diteladani.
Pelajaran bagi Generasi Muda
Sebagai seorang dosen yang sehari-hari berinteraksi dengan mahasiswa, saya melihat pengalaman ini memiliki relevansi dengan pendidikan karakter generasi muda. Anak muda membutuhkan figur inspiratif. Bukan hanya mereka yang berhasil mencapai popularitas,tetapi juga mereka yang mampu mempertahankan kesederhanaan setelah meraih keberhasilan.
Di era media sosial ketika pencapaian sering dipamerkan dan pengakuan publik menjadi sesuatu yang dikejar kerendahan hati dapat terlihat kurang menarik dibandingkan kemewahan dan popularitas.
Padahal pendidikan karakter justru membutuhkan contoh nyata bahwa keberhasilan tidak harus diikuti sikap merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Kita dapat mengajarkan mahasiswa tentang etika,empati,dan komunikasi interpersonal melalui berbagai teori.Namun, keteladanan dalam kehidupan sehari-hari sering kali memberikan pelajaran yang lebih mudah diingat.
Dalam dunia kesehatan yang saya tekuni,sikap menghargai manusia juga menjadi bagian penting dari profesionalisme seorang tenaga kesehatan tidak cukup hanya memiliki kompetensi klinis.Ia harus mampu mendengarkan,menunjukkan empati dan memperlakukan setiap pasien dengan bermartabat.
Prinsip tersebut sesungguhnya berlaku dalam berbagai profesi,termasuk dunia hiburan.Keramahan tidak membuat seseorang kehilangan wibawa. Kesederhanaan tidak mengurangi prestasi. Sebaliknya,keduanya dapat memperkuat penghormatan yang diberikan masyarakat.
Popularitas Bisa Berlalu,Kebaikan Tinggal dalam Ingatan
Musik memiliki kekuatan untuk menyimpan kenangan,sebuah lagu dapat membawa seseorang kembali kepada masa sekolah ,persahabatan,cinta pertama atau perjalanan hidup yang telah lama berlalu.
Jikustik berhasil menghadirkan pengalaman tersebut bagi banyak pendengarnya termasuk saya.
Namun setelah bertemu Carlo saya memperoleh kenangan lain yang tidak berasal dari rekaman musik ataupun panggung konser. Kenangan itu lahir dari percakapan sederhana dan sikap ramah seorang musisi yang telah lama saya kagumi.
Saya kemudian menyadari bahwa pengaruh seorang figur publik tidak selalu muncul melalui pernyataan besar,kampanye sosial,atau pidato motivasi.Terkadang pengaruh itu hadir melalui perilaku kecil yang dilakukan secara wajar.
Senyuman kepada orang yang baru dikenal sapaan kepada petugas hotel dan kesediaan berbincang tanpa menciptakan jarak sosial mungkin terlihat sepele namun bagi orang yang menerimanya hal tersebut dapat meninggalkan kesan mendalam.
Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif,kita memerlukan lebih banyak teladan tentang bagaimana menjadi berhasil tanpa kehilangan kehangatan sebagai manusia.
Carlo Jikustik memberikan saya satu pengingat penting: kehebatan tidak selalu harus diumumkan,dan kerendahan hati tidak membutuhkan panggung untuk terlihat.
Barangkali suatu hari nanti lagu-lagu Jikustik akan terus diputar oleh generasi yang bahkan belum lahir ketika Setia dan Puisi pertama kali dikenal masyarakat.
Namun bagi saya pribadi ada satu hal yang akan selalu menyertai setiap kali mendengarkan musik Jikustik kenangan tentang seorang drummer yang tidak hanya piawai menjaga irama tetapi juga mampu menghadirkan kehangatan dalam perjumpaan sederhana.
Sebab popularitas membuat seseorang dikenal banyak orang,tetapi kerendahan hati membuatnya dikenang dengan tulus. Dan Carlo telah memberikan saya alasan untuk mengenangnya dengan cara demikian.
Penulis: Prima Trisna Aji
Dosen Spesialis Medikal Bedah
Universitas Muhammadiyah Semarang