Akibat Perang Rusia-Ukraina,Pertemuan Para Menteri G20 Berakhir Tanpa Kesepakatan

Harus Baca

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Pertemuan para menteri luar negeri negara-negara anggota Group of Twenty (G20) di Atlanta, Amerika Serikat, berakhir tanpa kesepakatan bersama terkait sejumlah isu keamanan global

Perpecahan antarnegara, terutama akibat perang Rusia-Ukraina, membuat forum ekonomi terbesar dunia itu gagal menerbitkan komunike bersama.

Pertemuan yang berlangsung selama dua hari hingga Sabtu (31/10/2026) tersebut akhirnya hanya menghasilkan pernyataan ketua atau chairman’s statement yang merangkum pembahasan.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan dirinya tidak melihat adanya peluang untuk mencapai solusi yang diterima secara universal atas berbagai persoalan global yang dibahas dalam pertemuan tersebut.

“Saya tidak akan berpura-pura kepada Anda hari ini bahwa kita sudah dekat untuk menemukan solusi atas masalah-masalah ini yang diterima secara universal,” kata Rubio kepada wartawan dalam konferensi pers penutupan pertemuan, seperti dikutip CNBC International, Minggu (1/10/2026).

Meski demikian, Rubio menilai sejumlah negara anggota G20 masih dapat bekerja sama untuk menyelesaikan persoalan tertentu, khususnya terkait rantai pasok dan mineral kritis.

Menurut dia, keamanan rantai pasok merupakan faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi. Karena itu, jalur perdagangan strategis dunia harus tetap terbuka dan aman.

Dalam pembahasan bersama sejumlah mitra, termasuk Australia, India, dan Jepang, isu keamanan jalur pelayaran menjadi salah satu perhatian. Pembahasan mencakup Selat Hormuz, Laut Merah, Laut Hitam, hingga Laut China Selatan.

Rubio menegaskan jalur perdagangan penting, termasuk Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, harus tetap aman dan terbuka bagi aktivitas perdagangan. Selain itu, negara-negara juga perlu memperkuat rantai pasok mineral kritis.

Foto Bersama G20 Dibatalkan

Perbedaan pandangan antarnegara bahkan sudah terlihat sejak awal pertemuan. Rubio membatalkan agenda foto bersama tradisional para menteri luar negeri G20 setelah sejumlah diplomat Eropa menyampaikan keberatan atas kehadiran Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Para diplomat Eropa mengancam akan memboikot atau meninggalkan sesi foto jika Lavrov ikut serta.

Menteri Luar Negeri Polandia Radosław Sikorski mengaku tidak terkejut dengan kegagalan pertemuan mencapai kesepakatan bersama.

“Perang sedang berlangsung, dan kita memiliki pihak-pihak yang terlibat dalam perang tersebut duduk bersama di meja yang sama. Jadi, sangat sulit untuk menyepakati satu sikap bersama,” ujarnya.

Sejumlah diplomat yang mengikuti pertemuan juga mengungkapkan bahwa pernyataan ketua sebenarnya sudah lama dipersiapkan sebagai alternatif komunike bersama. Hal ini mengingat besarnya perbedaan pandangan di antara negara-negara peserta.

Selain perang Rusia-Ukraina, perbedaan juga mencakup perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, kebijakan tarif AS, serta langkah China di Laut China Selatan.

Berbagai persoalan tersebut turut meningkatkan ketidakpastian perdagangan dan mendorong volatilitas harga energi global.

Perang Iran dan Rusia Jadi Sorotan

Kehadiran Rusia menjadi salah satu sumber ketegangan dalam pertemuan tersebut. Sejumlah negara anggota G20 sebelumnya menyampaikan kekhawatiran atas keputusan Amerika Serikat mengundang Rusia di tengah meningkatnya serangan Moskow terhadap Ukraina.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan Moskow tidak akan membiarkan Ukraina menimbulkan ancaman militer terhadap kepentingan keamanan Rusia.

Selain konflik Rusia-Ukraina, potensi intervensi militer baru Amerika Serikat terhadap Iran juga membayangi pertemuan G20.

Situasi tersebut membuat sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, termasuk Arab Saudi yang merupakan anggota G20, berada dalam kondisi waspada.

Rubio diketahui bertemu dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan serta Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan. Turki selama ini menjadi salah satu negara yang berperan sebagai mediator dalam konflik kawasan.

Associated Press sebelumnya melaporkan bahwa pejabat Amerika Serikat telah meminta sejumlah negara Timur Tengah dan sekutu regional untuk bersiap menghadapi kemungkinan serangan militer baru terhadap Iran setelah pemilihan umum AS pada Selasa depan.

Kemungkinan serangan tersebut juga memunculkan risiko aksi balasan dari Iran.

Meski pertemuan tingkat menteri luar negeri G20 berakhir tanpa komunike bersama, sejumlah diplomat menyatakan negara-negara peserta tetap berupaya mengatasi perbedaan menjelang pertemuan puncak para pemimpin G20 bulan depan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan tersebut di Florida pada Desember mendatang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Panglima TNI Buka Kejurnas Garuda Prima Offroad Challenge 2026

KORANBOGOR.com,SENTUL-Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto membuka Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Terbuka Garuda Prima Offroad Challenge dan Fun Offroad Tahun...

Berita Terkait