KORANBOGOR.com-Televisi pemerintah China, CCTV, tidak menayangkan dua pertandingan Liga Spanyol atau La Liga pada Sabtu (31/10/2026), menyusul kontroversi komentar bintang Real Madrid, Kylian Mbappe, mengenai mantan pemimpin China, Mao Zedong.
Meski Mbappe, Real Madrid, dan La Liga telah menyampaikan permintaan maaf, saluran olahraga CCTV tetap tidak menyiarkan kekalahan Villarreal 0-1 dari Espanyol maupun kemenangan Atletico Madrid atas Levante.
Belum diketahui apakah kedua pertandingan tersebut sebelumnya masuk dalam jadwal siaran CCTV kemudian dibatalkan, atau memang tidak dijadwalkan sejak awal.
Kontroversi bermula dari video viral yang memperlihatkan Mbappe menyebut Mao Zedong sebagai diktator saat membicarakan meme internet yang menampilkan wajahnya diedit menyerupai mantan pemimpin China tersebut.
Pernyataan itu memicu kecaman di China. China Media Group (CMG), lembaga yang membawahi CCTV, kemudian mengumumkan penangguhan siaran La Liga pada Senin.
CMG menegaskan permintaan maaf dari Mbappe, Real Madrid, dan La Liga merupakan syarat utama untuk meredakan kontroversi.
Mbappe kemudian meminta maaf atas komentarnya yang dinilai tidak tepat. La Liga juga menyampaikan penyesalan mendalam, disusul permintaan maaf dari Real Madrid.
Kementerian Luar Negeri China menyatakan menanggapi permintaan maaf Mbappe dengan serius. Namun, belum diketahui apakah pembicaraan untuk menyelesaikan persoalan tersebut telah dimulai.
China merupakan salah satu pasar penting sepak bola Eropa. Selain La Liga, CCTV menyiarkan pertandingan Liga Inggris, Jerman, Prancis, dan Italia.
Kontroversi Mbappe juga berdampak terhadap kerja sama komersialnya. Sejumlah merek besar China membatalkan kontrak sponsor dengan penyerang asal Prancis tersebut.
Sementara itu, pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, menilai klubnya telah melakukan langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. “Kami sudah melakukan bagian kami,” kata Mourinho.
Komentar mengenai Mao Zedong merupakan persoalan sensitif di China. Mantan pemimpin yang meninggal pada 1976 itu dikenal melalui berbagai kebijakan yang oleh sejumlah sejarawan dikaitkan dengan kelaparan massal dan jutaan kematian.