DBS Foundation Tanam Harapan dari Desa , Klinik , dan Ruang Kerja Inklusif Perluas Dampak Mendorong Keberagaman,Kesetaraan dan Inklusivitas 

Harus Baca

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Pertumbuhan bisnis sering diukur dari besarnya keuntungan, jumlah pelanggan, atau valuasi perusahaan. Namun, bagi tiga founder perempuan penerima DBS Foundation Grant Program ini, ukuran keberhasilan memiliki makna yang berbeda. Mereka memilih membangun usaha yang dapat berkembang dengan memberikan banyak nilai tambah untuk masyarakat secara berkelanjutan, mulai dari petani kecil, pasien di daerah terpencil, hingga penyandang disabilitas yang mencari kesempatan kerja.

Sebagai purpose-driven bank, Bank DBS Indonesia memaknai perannya lebih dari sekadar mitra finansial. Melalui pilar keberlanjutan ‘Impact Beyond Banking‘, Bank DBS Indonesia berkomitmen untuk mendorong inklusivitas secara lebih luas dengan memberdayakan bisnis berdampak sehingga menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat. Lewat DBS Foundation, komitmen ini hadir dalam bentuk nyata sekaligus tumbuh menjadi solusi yang menjangkau ribuan penerima manfaat di berbagai wilayah Indonesia.

Pada 2024, DBS Group memperkuat komitmennya dengan mengalokasikan tambahan pendanaan sebesar SGD 1 miliar untuk DBS Foundation dalam rentang 10 tahun ke depan yang disalurkan ke enam negara operasional DBS, termasuk Indonesia. Dalam penyelenggaraan DBS Foundation Grant Program 2025, sebanyak lima social enterprise di Indonesia terpilih sebagai penerima hibah dengan total pendanaan mencapai SGD 850.000. 

DoctorTool dan KONEKIN merupakan penerima DBS Foundation Grant Program 2025, sementara Java Fresh menjadi salah satu penerima pada 2024. Ketiganya terpilih dari ratusan proposal social enterprise dari berbagai negara. Meski menghadirkan solusi untuk isu yang berbeda, ketiganya memiliki benang merah yang sama: ide yang lahir dari pengalaman nyata di lapangan dan berkembang sebagai solusi untuk mendorong pemberdayaan masyarakat. 

Dari Kebun Desa ke Pasar Dunia

Bagi Margareta Astaman, Co-Founder & CEO Java Fresh, perubahan itu dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana. Mengapa Indonesia yang dikenal sebagai salah satu produsen buah terbesar di dunia justru tertinggal dalam ekspor buah segar?

“Sebenarnya Indonesia tidak kekurangan produksi. Kita kurang kualitas. Kenapa kurang kualitas? Karena petaninya belum mendapatkan insentif untuk menghasilkan produk sesuai standar ekspor,” kata Margareta dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan DBS Foundation baru-baru ini.

Sejak 2014, Java Fresh mendampingi petani kecil melalui pelatihan, sertifikasi internasional, sistem grading, hingga sistem pembayaran yang lebih adil, mengingat sekitar 93 persen petani Indonesia merupakan petani mikro dengan lahan kurang dari satu hektare. Kini, Java Fresh telah bekerja sama dengan sekitar 3.400 petani di Sumatera, Jawa, Bali, dan Lombok, dengan produk manggis yang telah diekspor ke lebih dari 25 negara.

Bagi Margareta, persoalan di desa tak berhenti pada petani. Banyak perempuan desa minim pilihan hidup dan menikah muda karena tidak memiliki kesempatan bekerja. Karena itu, Java Fresh membangun enam packing house di tengah desa, dengan mayoritas pekerja perempuan yang belum pernah memiliki pekerjaan formal.

“Kalau bisa dibilang, 99 persen pekerja kami adalah perempuan yang nol pengalaman kerja, bahkan di usia 40 tahun. Jadi, Java Fresh menampung banyak sekali first jobber yang penuh semangat,” katanya.

Dukungan DBS Foundation membantu Java Fresh mengembangkan riset untuk memperpanjang umur simpan manggis serta teknologi pascapanen, termasuk uji coba pengiriman lewat kontainer laut yang berpotensi menurunkan biaya logistik dan menghubungkan lebih banyak petani ke pasar global.

Teknologi untuk Kesehatan yang Lebih Merata

Semangat perubahan juga datang dari dunia kesehatan. Elisa Yoshigoe Wijaya, CCO & Co-Founder DoctorTool, melihat langsung kesenjangan layanan kesehatan di Indonesia, dari ketimpangan kota-daerah, distribusi dokter spesialis yang belum merata, hingga tingginya beban administrasi tenaga kesehatan.

“Sebelum kita bisa pintar dan berdaya secara ekonomi, yang kita butuhkan pertama kali adalah sehat. Kalau sehat, kita bisa melakukan apa saja,” kata Elisa.

DoctorTool mengembangkan sistem rekam medis digital yang terintegrasi dengan BPJS dan SATUSEHAT, sehingga dokter dapat mengakses riwayat pasien dalam hitungan detik, memangkas antrean, mempercepat pelayanan farmasi, serta memanfaatkan AI Clinical Decision Support dalam pengambilan keputusan klinis, termasuk untuk mendukung penanganan stunting. Teknologi ini kini beroperasi di 37 provinsi dan menjangkau sekitar 15 juta penerima layanan kesehatan.

“Kami percaya AI bukan untuk menggantikan dokter, tetapi untuk membantu mereka agar punya lebih banyak waktu melakukan hal yang paling penting, yaitu berinteraksi dan menganalisis kondisi pasien secara langsung,” ujar Elisa.

Melalui dukungan DBS Foundation, DoctorTool memperkuat pengembangan AI, infrastruktur teknologi, dan kapasitas tim engineering untuk menyempurnakan fitur clinical decision support tersebut.

Membuka Pintu Kesempatan yang Setara

Cerita lainnya berangkat dari pengalaman personal Marthella Sirait, CEO KONEKIN Indonesia, saat mengajar di sebuah desa terpencil di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Di sana ia bertemu tiga murid penyandang disabilitas yang hampir tidak memiliki akses pendidikan maupun peluang masa depan.

“Saya punya janji pribadi. Kalau saya tidak bisa menyelesaikan semua masalah pendidikan di Indonesia, setidaknya saya ingin membantu tiga murid saya ini agar percaya bahwa mereka tetap bisa sekolah, bekerja, dan punya masa depan,” kata Marthella.

Janji itu berkembang menjadi KONEKIN, sebuah platform yang menjembatani penyandang disabilitas dengan dunia kerja. Menurut Marthella, tantangan terbesar bukan hanya lapangan pekerjaan, tapi juga akses informasi dan kesiapan perusahaan untuk merekrut tenaga kerja disabilitas.

Melalui dukungan DBS Foundation, KONEKIN mengembangkan platform AI untuk membuat CV yang ATS-friendly, sistem verifikasi kandidat bagi perusahaan, Bersiap Academy untuk kesiapan kerja, serta program disability awareness bagi perusahaan, yang kini berkolaborasi dengan kawasan industri seperti Karawang, dengan target peserta pelatihan meningkat dari 150 menjadi 500 orang.

“Kami ingin membuat akses pekerjaan menjadi lebih adil dan bisa dijangkau oleh 17 juta penyandang disabilitas usia kerja di Indonesia,” ujar Marthella.

Ketika Bisnis Menjadi Kekuatan Perubahan

Bagi DBS Foundation, kisah ketiga perempuan ini membuktikan bagaimana dampak melampaui perbankan diwujudkan secara nyata, yakni ketika bisnis yang berani berpikir berbeda mampu menjadi kekuatan penyelesaian berbagai tantangan sosial. Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia sekaligus perwakilan DBS Foundation, Mona Monika, mengatakan pihaknya ingin memperbanyak dampak baik yang membawa harapan bagi masyarakat.

“Di tengah berbagai tantangan yang ada, masih banyak pemimpin wirausaha sosial yang terus bergerak menciptakan perubahan. Kami ingin semakin banyak orang mengetahui bahwa kebaikan itu nyata dan bisa memberikan dampak besar sekaligus menghadirkan solusi berkelanjutan atas berbagai tantangan sosial,” tutup Mona.

DBS Foundation membuka kesempatan kepada lebih banyak social enterprise untuk bergabung dalam DBS Foundation Business for Impact (BFI) Grant Program 2026. Dengan dana hibah yang dapat mencapai SGD 250.000 per penerima, DBS Foundation mendukung social enterprise dengan model bisnis berkelanjutan dan rekam jejak dampak sosial yang terukur. 

Bagi para wirausaha sosial yang ingin memperkuat kapabilitas sekaligus memperluas jangkauannya secara berkelanjutan, DBS Foundation masih membuka pendaftaran hingga 13 Juli 2026 dengan informasi lengkap yang dapat diakses melalui go.dbs.com/Grant2026

Rifka Suryandari
External Communications
Group Marketing & Communications
PT Bank DBS Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Jadi Sorotan , Dokter Adrian Rantung Meninggal Dunia Dugaan Perundungan di Lingkungan PPDS

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Kabar duka datang dari dunia kesehatan. Dokter Adrian Rantung, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Fakultas Kedokteran Universitas...

Berita Terkait