KORANBOGOR.com,JAKARTA-Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia batal melantik jajaran pengurus DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan periode 2026-2031 yang dipimpin Ilham Arief Sirajuddin. Bahlil tidak dapat menghadiri pelantikan karena harus mendampingi Presiden Prabowo Subianto untuk membahas sejumlah persoalan penting.
Pelantikan yang digelar di Hotel Four Points, Jalan Andi Djemma, Kota Makassar, Minggu (25/10/2026), dipimpin Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Muhammad Sarmuji. Acara tersebut turut dihadiri Menteri Komunikasi dan Digitalisasi Meutya Hafid serta Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman.
Dalam pidatonya, Sarmuji menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Bahlil. Ia menjelaskan, sebelumnya telah direncanakan agar Bahlil tetap menyapa para pengurus melalui Zoom meeting apabila tidak memungkinkan hadir secara langsung.
“Ketua umum sangat ingin hadir di Sulawesi Selatan. Pekan tadi direncanakan meskipun tidak bisa hadir, akan menyapa melalui Zoom meeting. Tetapi ternyata saat ini beliau sudah bersama Bapak Presiden Prabowo. Ada persoalan yang harus dibahas bersama bapak Presiden,” ujar Sarmuji.
Meski Bahlil tidak hadir, Sarmuji menegaskan, Partai Golkar tetap memberikan perhatian besar kepada Sulawesi Selatan. Menurutnya, provinsi tersebut merupakan salah satu basis utama pendulang suara partai berlambang pohon beringin itu.
“Tanpa mengurangi rasa hormat, ketua umum sungguh-sungguh menghargai sekali Sulawesi Selatan sebagai berbasis utama Partai Golkar,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sarmuji juga menyampaikan pesan mengenai kesetiaan kader kepada pemimpin dalam organisasi. Ia mengangkat filosofi sastra Makassar yang mengibaratkan pemimpin sebagai jarum dan pengikutnya sebagai benang.
Menurut Sarmuji, kader harus memiliki komitmen, menaati instruksi, dan mengikuti arahan pemimpin. Namun, kesetiaan tersebut harus diimbangi dengan tanggung jawab seorang pemimpin dalam memberikan arahan, mengambil keputusan, serta menjadi teladan bagi bawahannya.
Ia menekankan, pemimpin tidak boleh hanya menuntut kepatuhan kader, tetapi juga harus mampu menempatkan diri secara proporsional dan mengarahkan seluruh potensi organisasi untuk mencapai hasil terbaik.
Sarmuji mengungkapkan, jarum yang tidak bergerak dengan baik tidak akan menghasilkan tenunan yang indah. Begitu pula dalam organisasi, loyalitas kader perlu diimbangi dengan kepemimpinan yang mampu menyatukan dan menggerakkan seluruh anggota.