Puisi Widji Thukul ” Momok Hiyong ” Bergema Kritik Penguasa Memainkan Demokrasi

Harus Baca

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Putra penyair sekaligus aktivis hak asasi manusia (HAM) Widji Thukul, Fajar Merah mengkritik pemerintah lewat pembacaan puisi milik sang ayah berjudul Momok Hiyong dalam acara Panggung Rakyat: Bongkar.

Puisi Momok Hiyong yang ditulis Thukul pada 1996 menggambarkan kesewenang-wenangan penguasa dalam memainkan demokrasi.

“Luar biasa cerdasnya, di luar batas culasnya, demokrasi dijadikan bola mainan, hak asasi ditafsir semau gue,” kata Fajar di hadapan ribuan penonton yang berkumpul di Stadion Madya, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (9/12). Fajar tidak sendiri.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid turut menyampaikan kritik terhadap pemerintah.

Menurutnya, ribuan orang yang berkumpul di Panggung Rakyat: Bongkar karena demokrasi Indonesia sedang mengalami regresi dan represi, termasuk kebebasan berekspresi.

Ia menilai, kasus-kasus yang menimpa para aktivis seperti Haris Azhar, Fatia Maulidiyanti, Budi Pego, Bang Long, Mama Yosepha Alomang, serta seniman Butet Kartaredjasa menunjukkan bahwa penguasa sudah resah karena rakyatnya mulai bicara.

Menurut Usman, pemerintah telah melemahkan lembaga legislatif.

Bahkan, ia tidak segan-segan mengatakan Presiden Joko Widodo ingin terus memperpanjang kekuasaan dengan mengebiri Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai lembaga peradilan.

“(Jokowi) menjadikan Ketua MK, yang adik iparnya, untuk mengutamakan kepentingan keluarga, kepentingan anaknya untuk jadi cawapres. Bukan untuk kepentingan negara,” ujar Usman.

Pakar politik senior, Ikrar Nusa Bhakti juga tak mau ketinggalan bersuara. Ia mengajak semua masyarakat yang hadir untuk merebut kembali demokrasi.

Sebab, ada usaha-usaha membelokkan rel demokrasi untuk kepentingan Pemilu 2024 ke arah nepotisme.

Padahal, sambung Ikrar, rakyat telah berupaya lewat aksi demonstrasi untuk menggulingkan pemerintahan Orde Baru guna meniadakan nepotisme yang menjadi rangkaian dari korupsi dan kolusi.

“Ternyata 25 tahun setelah Reformasi, itu nepotisme kembali ada. Makanya kita berupaya supaya demokrasi kembali, kedaulatan rakyat kita rebut kembali, dan kita tentukan siapa yang layak jadi pemimpin bangsa kita,” sambungnya.

Panggung Rakyat: Bongkar diselenggarakan oleh Aliansi Selamatkan Demokrasi Indonesia (ASDI) untuk memperingati Hari Anti Korupsi dan HAM Sedunia yang masing-masing diperingati tiap 9 dan 10 Desember.

Kegiatan itu juga diisi dengan hiburan musik, antara lain dari Black Stones Band, Iwa K, dan Young Lex.

Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan pameran foto maupun instalasi replika makam para aktivis korban penghilangan paksa 1997-1998 maupun Tragedi Semanggi 1998 di beranda Stadion Madya. 

Di antara replika makam tersebut, tertulis nama Widji Thukul, Petrus Bima Anugerah, Yani Afrie, dan Bernardinus Realino Norma Irmawan alias Wawa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Menanamkan Rasa Cinta NKRI, TNI Berikan Wasbang Di SMAN 1 Manggis

KORANBOGOR.com,KARANGASEM-Menyadari pentingnya Wawasan Kebangsaan (Wasbang) bagi anak sekolah, anggota Satgas TMMD ke-119 Kodim 1623/Karangasem, memberikan penyuluhan Wasbang kepada 40...

Berita Terkait