Tawaran Progresif dalam Musik Jazz Melalui Salihara Jazz Buzz 2024 : Teater Salihara,24-25 Februari & 2 Maret 2024

Harus Baca

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Mengawali 2024 dengan penuh antusias, Komunitas Salihara Arts Center menggelar festival musik jazz progresif dalam gelaran Salihara Jazz Buzz.

Salihara Jazz Buzz rutin menampilkan pilihan genre, komposisi dan presentasi konsep musik baru setiap tahunnya. Tahun ini; Jazz Buzz menampilkan tiga musisi pilihan Undangan Terbuka yakni; A6 Ensemble, Borderline,dan Riki Danni.

Ketiganya dipilih karena dapat memberikan tawaran baru dalam jazz tanah air selaras dengan visi/misi Salihara Jazz Buzz menurut pertimbangan para Dewan Juri.

Kurator Musik dan Tari Komunitas Salihara,Tony Prabowo mengatakan bahwa jazz dalam kehidupan musik di Indonesia menjadi salah satu genre musik yang banyak peminatnya dan Salihara hadir untuk memberikan tawaran kebaruan akan hal tersebut.

Selain tawaran yang menarik, ketiga musisi jazz pilihan ini juga hadir dari latar belakang pendidikan yang menarik, 

“Ketiga grup ini terlihat menonjol di antara yang lain karena ketiganya mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup baik, sekalipun mereka jelas harus bekerja keras untuk menambah pengalaman bermain, khususnya menyerap dan berjuang untuk mencari estetika baru pada karya-karya mereka.”

Tentang penampil dan musik yang dibawakan:

Penampil: Riki Danni | Sabtu, 24 Februari 2024 | 20:00 WIB

Riki merupakan seorang saksofonis dan komponis asal Indonesia. Ia terinspirasi dari musisi-musisi seperti Jaubi, Braxton Cook, Shubh Saran, Guernica Quartet, dan SOIL & “PIMP”. Riki gemar menciptakan karya-karya fusion jazz yang memiliki unsur-unsur etnis mancanegara dan elektronik, sebagai usaha untuk menghadirkan musik yang keluar dari kosabunyi jazz tradisional.

Musik: Principles

Principles adalah karya musik orisinil Riki Danni yang dikemas dengan gaya musik fusion jazz dan terinspirasi dari sejumlah konsep musik etnis, terutama dari Jepang, Eropa, dan Timur Tengah. Ia menggabungkan elemen-elemen musik elektronik dengan berbagai pengaruh budaya tersebut untuk menyampaikan narasi tentang pencarian jati diri. Tiap karya musik yang ditampilkan mengangkat narasi sebuah filosofi atau prinsip hidup tertentu, sekaligus mengajak penonton untuk mempertanyakan validitasnya. Pertunjukan musik ini dibawakan dalam format ensambel berisi saksofon, flute, gitar, keyboard, bas elektrik, perkusi, dan drum. Karya ini diwarnai dengan permainan improvisasi dari tiap instrumen sepanjang pertunjukkan.

Penampil: A6 Ensemble | Minggu, 25 Februari 2024 | 16:00 WIB

A6 Ensemble merupakan sebuah grup musik Instrumental Ethnic Fusion yang lahir di Yogyakarta pada pertengahan 2019. Perjalanan A6 Ensemble dimulai saat menjadi penampil pada pameran tunggal I Nyoman Sukari dan memperkenalkan diri sebagai A6 Percussion. Dengan fokus awal bermain perkusi, nama A6 diambil dari ukuran pada stik drum dan terbentuk untuk mengisi acara kesenian seperti pameran dan pertunjukan. Seiring berjalannya waktu, nama A6 Percussion kemudian diubah menjadi A6 Ensemble, dengan alasan adanya perubahan formasi yang tidak hanya fokus pada permainan perkusi saja.

Pada akhir 2019 hingga sekarang, A6 Ensemble mulai merambah ke penciptaan karya musik instrumental yang lebih serius dengan menentukan visi dan misi grup musik ini. Setelah melalui perjalanan panjang, pada Februari 2022 A6 Ensemble berhasil meluncurkan single pertama yang berjudul “LAGAS”. Pada akhir 2022, A6 Ensemble kembali merilis single kedua dengan judul “HOPE”. Karya-karya ini dapat didengarkan di seluruh platform musik digital.

Musik: A Resting Place

A Resting Place mengajak penonton untuk merefleksikan bunyi-bunyi tematik dari karya A6 Ensemble. Ide melodi utama dari karya-karya A6 Ensemble mencoba merepresentasikan suasana yang dialami oleh personilnya mulai dari suka cita, perasaan sedih, bahagia, haru serta refleksi mengenai perjalanan grup ini. A6 Ensemble akan membawakan pertunjukan musik jazz dengan konsep yang diadaptasi dari gagasan konsep film dan seni pertunjukan, yaitu naratif dan performatif. Naratif merujuk pada suatu bentuk skenario yang menawarkan cara pandang baru untuk menikmati musik instrumental. Konsep naratif akan dikemas dalam bentuk booklet yang berisi skenario mencakup judul dan narasi tiap karya yang akan ditampilkan pada Salihara Jazz Buzz 2024, tanpa memiliki kesinambungan dengan urutan karya saat ditampilkan. 

Konsep performatif mengacu pada aksi atau pertunjukan yang tidak hanya menyajikan suatu karya tetapi juga bertindak sebagai ekspresi seni dan identitas. A6 Ensemble mengedepankan unsur dinamika pertunjukan dalam sebuah pementasan. Selain itu, A6 Ensemble akan menghadirkan kolaborasi antara performance art, visual mapping, tata cahaya, dan gimik di atas panggung.

Penampil: Borderline | Sabtu, 2 Maret 2024 | 20:00 WIB

Borderline adalah grup jazz asal Indonesia yang terbentuk pada 2022 dan terdiri dari empat musisi muda internasional berusia 20–25 tahun, yaitu Muhammad Rega Dauna (harmonika), Brandon Julio (bas), Michael Ananda (gitar), dan Timoti Hutagalung (drum). Nama “Borderline” digunakan karena para anggotanya tinggal di perbatasan kota. Borderline memulai kariernya dengan bermain jazz di bar Jakarta. Borderline mulai tampil pada gigs kecil di Jakarta Selatan, kemudian tampil pada festival-festival besar seperti Ngayogjazz, Suara Festival, Java Jazz, dan Esplanade’s Jazz. Mereka juga mewakili Indonesia dalam Europe Tour 2022. Selama Europe Tour pada Agustus–Oktober 2022, Borderline menggelar konser jazz di 11 negara. Borderline merilis CD edisi Eropa berjudul “Eye of The Universe”, yang terdiri dari lima lagu berjudul Jakarta City, Blackrose, Gray Sun, Eye of The Universe, dan Ana Maria oleh Wayne Shorter.

Musik: Eye of The Universe

Eye of The Universe adalah judul album (juga pertunjukan) dari Borderline yang berisi musik-musik original yang diciptakan oleh masing-masing anggota dan dirombak kembali bersama-sama. Judul tersebut terinspirasi oleh bulan purnama yang mewujudkan sebuah mata. Eye of The Universe berfilosofi bahwa di atas langit masih ada sesuatu yang lebih agung, yang menyaksikan segala baik dan buruk. Eye of The Universe juga berarti bahwa di setiap gelap selalu ada terang. 

Secara musikal karya-karya di dalam Eye of The Universe terinspirasi dari musisi jazz seperti Herbie Hancock, Chic Corea, Spirit Fingers, dan Pat Metheny, dengan warna musik yang dipengaruhi oleh genre latin jazz, european jazz, fusion, polyrhythmic music, dan odd meter music. Karakter dari setiap anggota yang berbeda dan telah dipadukan dalam satu kesatuan musik akan menciptakan nuansa yang lebih luas.

Untuk dapat merasakan pengalaman mendengarkan secara langsung pengunjung bisa melakukan pemesanan via tiket.salihara.org dengan harga Rp. 110.000 (umum) dan Rp. 55.000 (pelajar/mahasiswa).

Tentang Komunitas Salihara Arts Center

Komunitas Salihara Arts Center adalah sebuah institusi kesenian dan kebudayaan yang selalu menampilkan kesenian terkini dari Indonesia dan dunia, baik yang bersifat pertunjukan maupun edukasi, dalam lingkungan kreatif dan sejuk di tengah keramaian selatan Jakarta.

___________________________________________________________________ 

Untuk mengetahui detail pertunjukan silakan kunjungi sosial media Komunitas Salihara: Twitter @salihara | Instagram @komunitas_salihara | atau hubungi: media@salihara.org

Red/Media Komunitas Salihara

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Catatan Diskusi “Pendidikan, Hak Asasi Manusia, dan Peradaban Indonesia”

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) dan Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei),Paramadina Graduate School of Diplomacy bekerjasama dengan...

Berita Terkait