Media Kisah Alumni: Agus Rifai, Dari Santri Menjadi Pemilik Dua Bengkel Motor

Harus Baca

KORANBOGOR.com,DEPOK-Institut Kemandirian Dompet Dhuafa kembali melahirkan alumni yang berhasil membangun kemandirian melalui keterampilan. Salah satunya adalah Agus Rifai, alumni pelatihan servis motor tahun 2012 yang kini telah memiliki dua bengkel motor bernama Pitulas Motor. Bengkel tersebut berada di Harjamukti, Cimanggis, Depok dan Wanaherang, Cikeas, Bogor.
Perjalanan Agus hingga berada di titik ini tidaklah instan.

“Saya Agus Rifai, alumni pelatihan servis motor Institut Kemandirian tahun 2012. Alhamdulillah sekarang sudah membuka dua bengkel motor,” ujar Agus. Belajar dari Nol: Dari Pesantren ke Bengkel Motor Sebelum mengikuti pelatihan, Agus merupakan seorang santri. Setelah lulus dari pesantren, ia mulai memikirkan bekal keterampilan yang bisa menjadi jalan hidupnya di masa depan. “Waktu itu saya berpikir harus punya skill yang bisa dikuasai. Akhirnya saya memilih ikut
pelatihan otomotif di Institut Kemandirian,” jelasnya.

Namun perjalanan belajarnya tidak mudah. Agus mengaku sama sekali tidak memiliki dasar otomotif ketika pertama kali masuk pelatihan. Ia harus belajar dari nol, mulai dari mengenal komponen motor hingga memahami teori dan praktik perbaikan kendaraan. “Karena saya tidak punya basic otomotif sama sekali, awalnya cukup kesulitan.

Teori terasa sulit dipahami, lalu ketika praktik juga masih sering bingung. Tapi dari situ saya terus belajar dan mempraktikkan apa yang diajarkan,” katanya.Informasi mengenai pelatihan ini ia dapatkan dari temannya yang lebih dahulu mengenal
dunia otomotif. Dari sana, Agus mulai melihat peluang besar untuk mengubah hidup melalui
keterampilan.
Pengalaman Kerja sebagai Modal Membangun Bengkel
Menurut Agus, kemampuan memperbaiki motor menjadi hal paling berharga yang ia dapatkan selama pelatihan. Namun setelah lulus pada tahun 2012, Agus tidak langsung membuka usaha sendiri. Ia memilih bekerja terlebih dahulu di bengkel milik orang lain selama kurang lebih lima tahun untuk memperdalam pengalaman sekaligus mengumpulkan modal usaha.
“Setelah pelatihan saya kerja dulu di bengkel orang lain. Dari situ saya belajar banyak tentang pekerjaan di lapangan, pelayanan pelanggan, sampai bagaimana mengelola bengkel,” ungkapnya.
Perjalanan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada November 2017, Agus memberanikan diri membuka bengkel pertamanya. Berawal dari kemauan untuk mandiri dan pengalaman yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun, kini usahanya berkembang hingga memiliki dua cabang bengkel.
“Dari pelatihan itu saya jadi bisa memperbaiki motor orang. Dari situ juga akhirnya jadi jalan usaha dan penghasilan saya,” tambahnya.
Pelatihan Servis Motor: Membentuk Karakter dan Disiplin
Tak hanya keterampilan teknis, Agus juga merasa mendapatkan pembelajaran tentang disiplin dan pembentukan karakter selama mengikuti pelatihan di Institut Kemandirian.

“Kita bukan cuma belajar skill, tapi juga belajar disiplin dan memperbaiki ibadah,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai pentingnya program pelatihan seperti ini, Agus menilai bahwa pelatihan keterampilan sangat membantu masyarakat, terutama mereka yang belum memiliki arah pekerjaan maupun keahlian.
“Program seperti ini sangat bagus, tapi semua kembali ke diri kita masing-masing. Setelah pelatihan selesai, kita harus punya kemauan untuk mandiri dan menerapkan ilmu yang sudah didapat,” katanya.
Mendorong Anak Muda untuk Berani Belajar Keterampilan
Agus juga berharap semakin banyak anak muda yang mau belajar keterampilan dan berani membangun masa depan melalui keahlian yang dimiliki.
“Buat teman-teman yang belum punya skill atau belum punya arah pekerjaan, bisa ikut pelatihan di Institut Kemandirian. Pilihan pelatihannya banyak, mulai dari otomotif, menjahit, sampai digital marketing,” katanya.
Di akhir wawancara, Agus menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus harapannya untuk Milad ke-21 Institut Kemandirian.

“Selamat Milad ke-21 untuk Institut Kemandirian. Semoga terus berjalan dengan baik, terus melahirkan orang-orang mandiri, dan membantu masyarakat memiliki kehidupan yang lebih baik. Terima kasih untuk Institut Kemandirian,” tutup Agus.
Kisah Agus Rifai menjadi bukti nyata bahwa keterampilan, kerja keras, dan konsistensi dapat menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi. Program pelatihan di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa terus berkontribusi dalam mencetak sumber daya manusia yang berdaya dan mandiri.

Oleh : Siti Halimatussadiah
Sumber Info : Liputan Langsung
Kategori : Feature / Kisah Alumni
Teks & Foto : Siti Halimatussadiah, Malik Dynari
Penyunting : Sri Apriyanti

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Tim Panser Jerman Kalah Adu Penalti 4-3 Atas Paraguay pada 32 Besar Piala Dunia 2026

KORANBOGOR.com-Tim Panser Jerman kalah adu penalti dari Paraguay pada 32 Besar yang digelar di Boston Stadium, Boston, Selasa (30/6)...

Berita Terkait